Friday, March 15, 2019

Ndalem Pujokusuman

Ndalem Pujokusuman
Ndalem Pujokusuman terletak di jln Brigjen Katamso utara Pojok Benteng Timur (wetan) kota Yogyakarta. Dalem Pujokusuman dibangun pada masa Sultan Hamengku Buwana II adalah raja Kesultanan Yogyakarta yang memerintah selama tiga periode, yaitu 1792 - 1810, 1811 - 1812, dan 1826 - 1828 dan kemungkinan ndalem pujokusuman di bangun sekitar thn 1800 an (wikipedia)
Pada awalnya dalem ini ditempati oleh KRT Danudiningrat yang merupakan menantu Sultan Hamengku Buwana VII. Pada tahun 1901 diberikan kepada GBPH Pujokusumo yang merupakan putra Sultan Hamengku Buwana VIII sekitar thn 1921 . Pada tahun 1948 hingga 1949, dalem ini pernah digunakan sebagai markas pasukan gerilya Hantu Maut.

Bangunan terdiri atas pendopo, balai rata, pringgitan, dalem (sentong kanan, sentong tengah, sentong kiri), gandhok kanan, gandhok kiri, dan gadri. Pada saat ini dalem ini dipergunakan sebagai sekolah tari Jawa klasik ”Sasmita Mardawa” dan pada tahun 2011 ditetapkan sebagai pusat seni tari gaya Yogyakarta oleh Pemerintah Provinsi DIY.

















 Komplek bangunan ndalem Pujokusuman masih ditempati oleh Keturunan GBPH Pujokusumo sampai sekarang.

Friday, March 1, 2019

Ndalem Kaneman

Ndalem Kaneman ini dibangun pada tahun 1855 pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono V dan digunakan pertama kali oleh KRT Suronegoro hingga meninggalnya pada tahun 1911.

NDALEM KANEMAN adalah rumah dari GKR Anom Adibrata. Beliau adalah kakak kandung Sri Sultan HB X, Raja Yogyakarta saat ini. Pada dasarnya, tempat ini mempunyai sejarah panjang sebagai kediaman putra/putri raja Yogyakarta. Letaknya ada di dalam kawasan benteng Kraton Yogyakarta. Warga sekitar menyebut kawasan ini sebagai kawasan Njeron Beteng.

Pada masa pemerintahan Sri Sultan HB VI, ndalem ini ditempati untuk pembantu khusus untuk putra mahkota. Pada tahun 1924, restorasi dilakukan oleh KRT. Wiroguno dan diberi nama nDalem Wirogunan . Setelah itu, tempat ini ditempati oleh putra dari KRT. Wiroguno bernama KRT. Purwodiningrat. Beliau menikahi putri ke-19 dari Sri Sultan HB VIII sehingga diberi nama menjadi nDalem Purwodiningratan.

Pada akhir tahun 1988, putri pertama Sri Sultan Hamengku Buwono IX, GKR Anom, dan suaminya KPH. Adibrata, tinggal di tempat yang waktu itu masih bernama Kagungan nDalem Purwodiningratan ini. Namanya kemudian berubah menjadi NDALEM KANEMAN, mengikuti nama pemiliknya yang sekarang, GKR ANOM ADIBRATA.

Kata “KANEMAN” berasal dari kata “ANOM”. Bahasa Jawa mengenal bahasa krama, yaitu tataran bahasa yang paling halus. Jika dalam bahasa krama, anom berubah menjadi “ANEM”, yang secara harfiah berarti “muda”.

Kini NDALEM KANEMAN ditempati oleh dua putra GKR. ANOM ADIBRATA, yaitu RM. Aryo Santigi dan RM. Bramanto Nurdewana. Atas izin dari Kraton Yogyakarta, kedua putra ini kemudian memanfaatkan NDALEM KANEMAN sebagai tempat pelestarian budaya dan kegiatan pariwisata.

Selain untuk rumah tinggal, dalem ini sering digunakan untuk berbagai kegiatan antara lain kursus menari yang dikelola oleh Yayasan Among Beksa. Dalem ini juga sering digunakan untuk menjamu makan malam bagi para wisatawan asing sekaligus sajian pagelaran tari.
Dalem yang menghadap ke selatan ini memiliki pendapa yang cukup luas di bagian depan dengan seperangkat gamelan lengkap. Sebagian pendapa disekat dan digunakan sebagai ruang persiapan penari. Setelah pendapa, terdapat pringgitan yang seperti lazimnya pada rumah-rumah tradisional Jawa digunakan untuk pertunjukan wayang kulit (Pringgitan berasal dari kata ringgit = wayang). Berhubungan langsung dengan pringgitan adalah rumah induk atau ruang tengah dan tiga senthong (kamar) – senthong kiwa/kiri, senthong tengah, dan senthong tengen/kanan. Di sebelah timur ruang tengah terdapat ruangan yang sekarang difungsikan sebagai museum keluarga yang memuat berbagai benda-benda keluarga termasuk foto-foto keluarga.

Berikut foto-foto Ndalem Kaneman















Di kompleks Dalem kaneman – yaitu di kanan dan kiri rumah induk dan pendapa – tinggal para ahli waris dari para abdi dalem yang magersari (diberi hak untuk tinggal oleh pemilik dalem). Seluruh warga magersari tergabung dalam dua buah RT (Rukun Tetangga).

Ndalem Kaneman beralamatkan Jl. Kadipaten Kidul No.44, Kadipaten, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Friday, February 15, 2019

Gedung SMPN 3 Yogyakarta

Gedung SMPN 3 Yogyakarta
Gedung SMPN 3 Yogyakarta dulunya digunakan sebagai sekolah HCS ( Hollandsch Chineesche School ) Sekolah HCS pertama kali didirikan pemerintah Belanda di kampung Gandekan pada tahun 1912 (sekarang SMPN 3 Yogyakarta). HCS lebih menarik minat bagi orang Cina karena dengan pengantar bahasa Belanda, lulusannya akan mudah mendapatkan pekerjaan maupun kehidupan yang layak. Di Yogyakarta terdapat empat buah sekolah HCS, yaitu : HCS Gubernemen di Gandekan, HCS Zending Protestan di kampung Gemblakan tahun 1917, HCS Nasional atau HCS Mayor Yap Hong Sing didirikan tahun 1921, dan HCS Katolik yang didirikan tahun 1934. Syarat masuk HCS bagi anak Cina lebih lunak yaitu usia maksimum 7 tahun dan penguasaan bahasa Belanda tidak diberlakukan dengan ketat. Biaya pendidikan di HCS disesuaikan dengan penghasilan orang tua siswa. Pada tahun 1942, Jepang mendarat di Jawa dan menggantikan kekuasaan pemerintah Belanda. Jepang menerapkan beberapa kebijakan terhadap orang-orang Cina di Indonesia seperti menghidupkan kembali budaya Cina dan mendirikan organisasi orang Cina yang dikenal dengan nama Hoa Chiao Chung Hui (HCCH). Di Yogyakarta, HCCH didirikan tanggal 7 Juli 1942 dan diresmikan Jepang pada 5 Oktober 1942. Seiring dengan kedatangan Jepang, semua sekolah ditutup termasuk sekolah Cina. Namun, atas bantuan Woo Sung dan Kwik Sie Liong, akhirnya dengan izin dari Jepang maka sekolah Cina di Yogyakarta dibuka kembali tanggal 7 September 1942. Jumlah sekolah Cina di Yogyakarta pada tahun 1942-1945 ada 6 buah sekolah, yaitu di Poncowinatan, Dagen, Gemblakan, Ketandan, Wates dan Wonosari. Sekolah Cina di Gemblakan dikenal dengan nama “sekolah nomor tiga” (ti san siauw).
Pada tahun 1945 sampai dengan 1946 di Daerah Istimewa Yogyakarta, baru ada 3 buah SMP Negeri. Padahal waktu itu Yogyakarta adalah ibu kota Republik Indonesia.

Adapun 3 buah SMP Negeri itu adalah :
SMP Negeri 1 Yogyakarta yang beralamat di Jalan Cik Dik Tiro (tetap sampai sekarang)
SMP Negeri 2 Yogyakarta yang beralamat di Jalan Senopati
SMP Putri Yogyakarta yang beralamat di Kota Baru (sekarang SMA Stella Duce)
Saat itu banyak anak yang berniat masuk ke sekolah negeri termasuk yang datang dari luar kota, karena peminat yang sangat banyak SMP Negeri tidak dapat menampung anak-anak tersebut.

Hal ini menjadikan keprihatinan para pejabat daerah, terutama Kantor Pendidikan Daerah Wilayah Praja. Maka atas persetujuan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, pada Tanggal 1 September 1946 kantor Pendidikan Daerah Wilayah Praja mendirikan SMP yang waktu itu diberi nama SMP Kasultanan.
SMP Kasultanan pada waktu itu baru memiliki 3 ruang kelas Yakni : Ia, Ib, Ic. Dimana jabatan Kepala Sekolah pertama dipercayakan kepada Bpk. Sudibyo, seorang tokoh pramuka. Guru-guru yang ada saat itu baru 10 orang.
SMP ini diresmikan oleh pejabat daerah pada saat itu yaitu: KRT Siswodiharjo dan KRT Notobroto.

Pada tanggal 1 Nopember 1947 seiring dengan berkembangnya waktu SMP Kesultanan yang semakin banyak peminatnya serta gurunya yang bertambah, akhirnya SMP Kasultanan diambil alih oleh pemerintah dan berubah menjadi SMP Negeri 3 Yogyakarta. Setelah jabatan Kepala Sekolah diganti oleh Bp. Pinandoyo tidak lama lagi jabatan Kepala Sekolah yang ke tiga kembali diganti oleh Bpk. I Hutauruk semakin berkembang.
Pada Tanggal 19 Desember 1948 terjadi Class (Pertempuran) di kota Yogyakarta, SMP Negeri 3 yang saat itu gedungnya masih bersama dengan SMP Negeri 2 hancur dan SMP Negeri 3 tidak bisa menggunakan SMP Negeri 2 sebagai lokasi. Akhirnya SMP Negeri 3 pinjam gedung SR Keputren, saat itu untuk tempat sementara.


Berikut Foto gedung SMPN 3 Yogyakarta






Pada th 1949 sampai 1950 Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Yogyakarta dijabat oleh Bp.Supardi. Pada saat inilah berkat perjuangan beliau SMP Negeri 3 bisa bertempat di Jalan Pajeksan No.18 Yogyakarta menempati bekas gedung HCS (Hollandsch Chineesche School)
sampai dengan sekarang.

Tepatnya pada tanggal 2 mei 1950 SMP Negeri 3 Yogyakarta menduduki gedung barunya.
SMP Negeri 3 Yogyakarta pernah disebut sebagai SMP Perjuangan karena pernah dititipi anak-anak tentara pelajar.

Friday, February 1, 2019

SD Pujokusuman Yogyakarta

SD Pujokusuman Yogyakarta
Bangunan berada di Jalan Kolonel Sugiyono No.9 Yogyakarta. Pada awal tahun 1918 sekolah ini merupakan HIS (Holland Indische School). 

Pada tahun 1952, bangunan sekolah digunakan untuk SD Pujokusuman A, B, C, dan SD Pancasila (SD IKIP). Dalam perkembangannya SD Pancasila (SD IKIP) berubah menjadi SD Percobaan tahun 1967. Hal ini didasarkan atas kerjasama antara IKIP dan Koperasi Batik “Tamtama” oleh Bapak R. H. Aboebakar Ronowiroeno pada tanggal 30 Maret 1967. 





  
Pada bulan Juli 2012, SD Pujokusuman 1, 2, 3, dan SD Percobaan dilebur menjadi satu (regrouping) dengan nama SD Pujokusuman.

Tuesday, January 15, 2019

Ndalem Ngadiwinatan

Ndalem Ngadiwinatan
Bangunan Dalem ini kemungkinan di bangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VI adalah sultan keenam Kesultanan Yogyakarta yang memerintah pada tahun 1855 – 1877, berjuluk Sinuhun Mangkubumi. Dia menggantikan kakaknya, Hamengkubuwana V dan ndalem ini merupakan tempat tinggal BPH Hadiwinoto, putra Sultan Hamengku Buwono VI. Setelah BPH Hadiwinoto wafat, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII memberikan Dalem Ngadiwinatan ini kepada menantunya KRT Prawirodiningrat, yang selanjutnya oIeh KRT Prawirodiningrat ndalem ini diberikan kepada putranya yang bemama BekeI Atmosuryobroto. tahun 1986-an Dalem ini digunakan untuk Kantor Generasi Muda dan sekarang Ndalem Ngadiwinatan menjadi Komplek PDAD Ngadiwinatan.

Ndalem ngadiwinatan terbagi beberapa bangunan sama dengan ndalem2 lainya di seputar Kraton Yogyakarta. Pintu gerbang sebagai pintu masuk namun telah berubah dari bentuk aslinya ndalem2 lainys dan bangunan utama pendapa dengan tiang2 kayu sebagai Penyangga. Bangunan utama keluarga di utara pendapa.



Berikut foto-foto Ndalem Ngadiwinatan Jogjakarta











 Foto by. Kangmas Joyo Riwan
#kerabatkelilingjogja #BPCBDIY

Secara administratif, Kampung Ngadiwinatan ini termasuk dalam wilayah Kecamatan Ngampilan. Sebelah timur kampung ini membentang jalan Bhayangkara (Jalan Ngupasan) menjadi pembatas antara wilayah Kelurahan Ngupasan dengan Kelurahan Ngampilan.